Liputan6.com, Jakarta - Ada pertanyaan yang selalu muncul di ruang pamer mobil: mobil ini sebenarnya untuk perjalanan yang mana?
Sebab dalam satu minggu, satu mobil di Indonesia bisa menjalani beberapa peran kehidupan sekaligus. Senin pagi ia merayap di kemacetan. Jumat sore ia berubah menjadi kendaraan lintas provinsi. Akhir pekan ia menjadi ruang keluarga berjalan, penuh kursi terisi dan bagasi yang meluap.
Advertisement
Satu tubuh, banyak tuntutan. Dan selama ini, konsumen selalu diminta memilih: irit atau bertenaga, kota atau luar kota, canggih atau mudah dipakai.
DFSK E5 Plus, yang harga resminya diumumkan pada pembukaan GIIAS 2026 di ICE BSD City, datang dengan positioning yang terdengar seperti penolakan halus terhadap seluruh pilihan itu: Dual-Energy Premium Urban SUV.
Bayangkan mobil ini menggendong dua dapur energi. Satu untuk kota, satu untuk jalan di luarnya.
Dapur Pertama: Ketika Kemacetan Punya Harga
Angka kemacetan bukan lagi soal perasaan. TomTom Traffic Index 2025, yang dirilis Januari 2026, mencatat perjalanan sejauh 10 kilometer di Jakarta rata-rata menghabiskan 26 menit 19 detik — naik dari 25 menit 31 detik pada 2024. Tingkat kemacetannya 59,8 persen, melambungkan Jakarta ke peringkat ke-24 kota termacet dunia dari posisi ke-90 setahun sebelumnya. Bandung lebih parah lagi: 64,1 persen, dengan 32 menit 26 detik untuk jarak yang sama. Sepanjang tahun, pengendara Jakarta kehilangan sekitar 125 jam hanya karena terjebak di jam sibuk.
Seratus dua puluh lima jam. Lebih dari lima hari penuh di dalam kabin tanpa berpindah ke mana-mana. Dan di kondisi seperti itulah mesin bensin bekerja paling boros justru ketika mobil paling sedikit bergerak.
Di sinilah dapur energi pertama E5 Plus ambil kendali. Mobil ini menggandeng mesin bensin dengan motor listrik berdaya hingga 160 kW dan baterai 25 kWh, lewat teknologi yang DFSK sebut DE-i — Dual Energy Intelligent. Dalam mode listrik murni, jangkauannya diklaim sekitar 140 kilometer.
Angka itu perlu ditaruh berdampingan dengan pola perjalanan nyata. Dengan rutinitas komuter harian di kisaran 40–60 kilometer, sebagian besar minggu kerja seorang pengendara kota sebenarnya bisa dijalani tanpa menyalakan mesin bensin sama sekali — pengisian dilakukan semalaman di rumah, seperti mengisi ponsel. Artinya, di jam-jam paling boros bagi mobil konvensional, E5 Plus justru berada di wilayah kerja motor listrik: bergerak pelan, berhenti, bergerak lagi, tanpa membakar apa pun.
Ada satu fitur yang jarang ditonjolkan tetapi terasa sangat Indonesia: Vehicle-to-Load (V2L), kemampuan mobil mengeluarkan listrik untuk perangkat di luar dirinya. Saat listrik rumah padam, saat kondangan digelar di lapangan, saat berkemah — baterai 25 kWh itu berhenti menjadi komponen mobil dan berubah menjadi genset yang kebetulan punya empat roda.
Dapur Kedua: untuk Jalan yang Belum Siap
Tetapi Indonesia tidak berhenti di kemacetan kota. Ia juga tol lintas provinsi, tanjakan menuju kampung halaman, dan perjalanan yang tidak mengenal kompromi soal jarak. Di sanalah kendaraan listrik murni sering kehilangan pijakan — dan riset independen menunjukkan konsumen sudah lama menyadarinya.
Dalam laporan PwC Electric Vehicle Readiness (eReadiness) 2025 yang dirilis November 2025, lebih dari separuh responden Indonesia yang skeptis terhadap kendaraan listrik — 55 persen — menyebut jarak tempuh terbatas sebagai kekhawatiran utama, diikuti keraguan terhadap daya tahan baterai (53 persen) dan waktu pengisian (42 persen). Skor kesiapan elektrifikasi Indonesia memang naik menjadi 2,8 dari skala 5, tetapi aspek infrastrukturnya hanya 1,4 — jauh tertinggal dari Singapura di angka 4,3.
Perhatikan bahwa dua dari tiga kekhawatiran terbesar itu — jarak tempuh dan waktu pengisian — sesungguhnya bukan keluhan tentang mobilnya, melainkan tentang apa yang belum tersedia di luar sana.
Persis di titik itu dapur energi kedua bekerja. Begitu kota ditinggalkan dan jaringan pengisian menipis, mesin bensin mengambil alih. Tidak ada perhitungan sisa daya, tidak ada pencarian stasiun pengisian. DFSK mengklaim jarak tempuh gabungan hingga 1.400 kilometer sekali penuh.
Kedua angka itu — 1.400 km dan 140 km — berbasis siklus pengujian NEDC.
Yang menarik, dua dapur energi itu tidak dipakai bergantian atas perintah pengemudi seperti mengganti persneling. Sistem yang memutuskan. Pemiliknya cukup menyetir; urusan siapa yang bekerja di balik kap mesin bukan lagi keputusan yang harus ia ambil setiap pagi.
Perjalanan panjang juga menuntut hal lain di luar urusan energi: tubuh penumpang yang tidak cepat lelah. Di sini E5 Plus mengandalkan bodi berdimensi 4.760 mm × 1.865 mm dengan tinggi 1.710 mm dan jarak sumbu roda 2.785 mm, membungkus tiga baris kursi berbalut kulit untuk tujuh penumpang. Baris pertama dan kedua memperoleh ventilated seat, fitur yang di iklim tropis bukan kemewahan, melainkan penentu apakah punggung sampai tujuan dalam keadaan basah atau tidak. Suspensinya memakai Frequency Selective Damping, yang menyesuaikan tingkat redaman menurut karakter guncangan, sementara lebih dari 300 titik peredam suara ditanam untuk menjaga kesenyapan kabin. Penjernih udara di dalamnya menyaring partikel hingga ukuran 2,5 mikron.
Urusan hiburan digarap tak kalah serius: layar infotainment 15,6 inci di depan, ditemani Rear Entertainment Display berukuran sama untuk penumpang baris kedua — yang diklaim pertama di kelasnya — serta 13 speaker. Sistemnya ditopang prosesor Qualcomm Snapdragon 8155 dan asisten suara. Untuk keselamatan, tersedia paket ADAS Level 2.
Pendekatan ini sejalan dengan arah selera pasar. Deloitte, dalam 2026 Global Automotive Consumer Study yang menyurvei lebih dari 28.500 konsumen di 27 negara pada Oktober–November 2025, termasuk 6.013 responden di enam pasar Asia Tenggara, mencatat permintaan terhadap mobil listrik murni stabil tetapi berhati-hati, sementara daya tarik hybrid justru menguat karena konsumen menimbang keterjangkauan, akses pengisian daya, dan kepraktisan harian sekaligus.
Marketing Director DFSK Indonesia, Alexander Barus, merangkumnya dengan istilah yang sengaja dibuat mudah diingat.
"Kami mengusung konsep NiCE agar konsumen Indonesia lebih mudah memahami berbagai fitur yang dimiliki kendaraan ini. E5 Plus menawarkan efisiensi tinggi, teknologi cerdas, sekaligus kenyamanan untuk keluarga," ungkap Alexander.
Harga dari Menolak Memilih
Selama GIIAS 2026, DFSK E5 Plus dijual Rp479 juta OTR Jakarta. Setelah pameran berakhir, harganya kembali ke Rp499 juta, selisih Rp20 juta yang khas sebagai pemantik keputusan beli di ruang pameran. Sebelum harga resmi diumumkan, DFSK menyatakan sudah mengantongi lebih dari 1.200 pre-booking.
Amy Gong, President of DFSK, menempatkannya dalam kerangka yang lebih besar. "Peluncuran DFSK E5 PLUS di Indonesia merupakan tonggak penting dalam perjalanan global DFSK menuju era mobilitas energi baru. Indonesia adalah salah satu pasar strategis kami, dan kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang memberikan nilai nyata bagi pelanggan. Melalui E5 PLUS, kami ingin menawarkan solusi mobilitas yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan tanpa mengorbankan kenyamanan maupun kepraktisan dalam penggunaan sehari-hari," kata Amy.
Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin, bicara soal posisi pasarnya.
"Dengan harga spesial Rp479 juta khusus selama pameran GIIAS 2026, dan harga normal Rp499 juta setelah periode pameran berakhir, DFSK E5 Plus menawarkan kombinasi teknologi elektrifikasi, kenyamanan premium, serta fitur yang sangat kompetitif di kelasnya. Melihat antusiasme pasar sejak masa pre-booking, kami optimistis E5 Plus akan menjadi salah satu pilihan utama di segmen SUV Plug-in Hybrid di Indonesia," katanya.
Selama pameran, DFSK menjalankan Exclusive N.I.C.E. Program. Setiap konsumen yang menandatangani Surat Pemesanan Kendaraan untuk model DFSK mana pun sepanjang GIIAS 2026 berkesempatan mengikuti lucky dip berhadiah eksklusif, hasilnya diumumkan langsung di booth, sementara hadiahnya diserahkan bersamaan dengan pengiriman kendaraan.
Namun benefit yang paling menentukan justru bukan hadiah undian, melainkan program perawatan gratis lima tahun atau 100.000 kilometer yang mencakup jasa servis, penggantian oli mesin, dan filter oli. Poin ini layak diperhatikan lebih dari sekadar bonus penjualan: bagi merek yang jaringan purnajualnya belum sepadat pemain lama, biaya perawatan adalah keraguan terbesar calon pembeli dan menanggungnya selama lima tahun adalah cara paling langsung menjawab keraguan itu tanpa perlu berdebat soal reputasi.
DFSK menyebut ekosistem kepemilikan itu terus diperkuat lewat pengembangan jaringan dealer, ketersediaan suku cadang di berbagai wilayah, serta layanan purnajual.
Pada akhirnya, tidak ada orang yang bangun pagi lalu berpikir bahwa hari ini ia membutuhkan dual-energy. Yang ada di kepala jauh lebih sederhana: harus berangkat kerja, harus menjemput anak, harus pulang, dan akhir pekan nanti keluarga ingin pergi.
Teknologi baru punya arti ketika ia berhenti meminta perhatian.
Jalan-jalan di negeri ini terlalu beragam untuk dijalani dengan satu karakter tunggal. Dan mungkin di situlah letak gagasan DFSK membawa dua energi dalam satu tubuh; bukan untuk menawarkan lebih banyak pilihan, melainkan agar pemiliknya tidak perlu terlalu banyak memilih.