Serial Bensin Xpander hingga Destinator Sukses, Racikan ‘Next Level Hibrida' Berlabuh ke Mitsubishi Xforce HEV

Mitsubishi New Xforce HEV meramu pengalaman dari lini bensin Mitsubishi dengan teknologi hibrida generasi baru, menghadirkan efisiensi dan keleluasaan tanpa men

oleh Nurrohman SidiqDiterbitkan 24 Agustus 2026, 20:18 WIB
Momen peluncuran New Mitsubishi Xforce HEV di GIIAS 2026. (Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Di Hall 10A ICE BSD City, sepanjang GIIAS 2026, Mitsubishi seperti membuka lemari panjang perjalanannya di Indonesia. Xpander, Xpander Cross, New Xforce, Pajero Sport, hingga Destinator berdiri dalam satu barisan. Tahun demi tahun, satu per satu kepingan itu terkumpul, hingga lini bensinnya kini terasa utuh dan matang.

Lalu, di sela barisan yang telah lebih dulu menemukan tempatnya, muncul sebuah arah baru. New Xforce HEV resmi meluncur pada 29 Juli 2026 sebagai hybrid pertama Mitsubishi yang juga diproduksi di Indonesia. Ia hadir bukan untuk memutus perjalanan yang sudah ada, melainkan membawa langkah berikutnya. Inilah ‘Next Level’ itu: ketika pengalaman yang telah lama dibangun mulai bertemu dengan cara baru untuk bergerak.

Sebab, di balik sistem hibridanya, ada jejak perjalanan Mitsubishi yang tidak dibentuk dalam semalam. Ada kemampuan membaca medan yang ditempa selama puluhan tahun di lintasan reli. Ada pula pengalaman mengelola tenaga listrik yang tumbuh dari pengembangan SUV plug-in hybrid pertama di dunia. Dua jalur yang berjalan dari arah berbeda itu kini bertemu dalam satu kendaraan.

President Director PT MMKSI, Atsushi Kurita, mengatakan bahwa New XForce dan New XForce HEV merupakan wujud komitmen Mitsubishi Motors untuk terus menyempurnakan produknya dengan mendengarkan kebutuhan serta gaya hidup konsumen Indonesia yang terus berkembang.

"Penyempurnaan yang kami hadirkan tidak hanya terlihat dari sisi desain dan fitur, tetapi juga diwujudkan melalui pengalaman berkendara secara menyeluruh yang menawarkan kenyamanan, rasa percaya diri, dan performa yang semakin baik untuk mendukung mobilitas sehari-hari," jelas Kurita, dikutip Senin (24/8/2026).

Satu Tangki untuk Nyaris Seribu Kilometer

Mobil Mitsubishi New Xforce HEV pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (29/7/2026). (KLY/ Budy Santoso)

Efisiensi adalah nilai jual paling terukur buat Xforce HEV. Dengan tangki 42 liter, MMKSI mengklaim jangkauan lebih dari 1.000 kilometer sekali isi—dan Single Tank Challenge Jakarta–Bali membuktikannya lewat catatan 1.172 kilometer.

Pengujian itu dilakukan pereli nasional Rifat Sungkar. Pada kecepatan rata-rata 70–80 km/jam, konsumsinya menyentuh 27,9 km per liter. Bahkan dengan gaya agresif di berbagai medan Jabodetabek, pengujian MMKSI masih mencatat batas bawah 20,5 km per liter, dengan rata-rata realistis di kisaran 24 km per liter.

Rifat merangkumnya dengan kalimat membumi. Menurutnya, "mobil ini akan dicintai sekali oleh ibu-ibu rumah tangga karena jarang isi bensin.” 

Ketika angka itu dibawa ke rutinitas bulanan, manfaatnya terasa semakin lebar. Pengendara yang menempuh 50 km sehari selama 25 hari kerja akan mencapai 1.250 km per bulan. Dengan konsumsi 24,4 km per liter, kebutuhan bahan bakarnya sekitar 51 liter. Sebaliknya, SUV bensin biasa yang berada di kisaran 12 km per liter saat menghadapi kemacetan membutuhkan hampir 104 liter. Selisih sekitar 53 liter tersebut, dengan harga bensin Rp13.000 per liter, berarti penghematan sekitar Rp690 ribu setiap bulan atau kurang lebih Rp8,3 juta dalam setahun yang tak perlu lagi keluar dari kantong.

Dalam hitungan yang lebih dekat dengan keseharian, pekerja dengan rute Bekasi–SCBD sejauh 55 km pulang-pergi cukup menyiapkan sekitar Rp39.875 untuk bensin per hari. Jalan bisa berganti wajah, lalu lintas dapat berubah arah, tetapi beban pengeluaran tidak harus ikut bergejolak.

Hybrid Cerdas dengan Naluri untuk Menjelajah

Infografis spesifikasi Mitsubishi XForce HEV (Liputan6.com)

Kunci efisiensi Xforce HEV bersemayam pada sistem full hybrid generasi kedua yang Mitsubishi hadirkan melalui filosofi “Electric Drive, Beyond Hybrid Confidence.” Jantungnya memadukan mesin bensin 1.6L DOHC MIVEC berkode 4A92 bersiklus Atkinson, bertenaga 107 PS dan torsi 134 Nm, dengan motor listrik 116 PS yang menghasilkan torsi instan 255 Nm. 

Seluruh tenaga itu disalurkan melalui transaxle hybrid dua-percepatan berkarakter e-CVT. Racikan tersebut lahir dari pengalaman panjang Mitsubishi di kendaraan elektrifikasi, termasuk teknologi PHEV yang lebih dulu diterapkan pada Outlander.

Di sinilah watak hybrid-nya mulai terasa berbeda dari mobil listrik murni. Baterai lithium-ion berkapasitas sekitar 1,1 kWh mengisi dirinya sendiri melalui energi pengereman dan mesin yang sesekali mengambil peran sebagai generator, tanpa membutuhkan satu pun colokan dari luar. 

Ketika mobil merayap, motor listrik dapat bekerja sepenuhnya: saat baterai membutuhkan tambahan daya, mesin beralih menjadi generator; ketika akselerasi menuntut lebih, keduanya berpadu; sementara pada kecepatan tinggi, mesin dapat terhubung langsung ke roda. Empat kondisi itu berganti secara otomatis sesuai kebutuhan, membuat tenaga datang secukupnya tanpa banyak terbuang.

Ada pula fungsi motor disconnect yang memutus motor listrik dari poros penggerak pada kecepatan tinggi untuk menekan kehilangan energi. Teknologi ini menjadi penyempurnaan dari sistem hybrid Xpander HEV yang lebih dulu hadir di Thailand. Dalam kondisi tertentu, mode listrik bahkan mampu membawa Xforce HEV melaju hingga 121 km/jam sebelum mesin mengambil alih.

Namun, efisiensi bukan satu-satunya bahasa yang dibawa Xforce HEV. Jejak “Mitsubishi Motors-ness” terasa melalui tujuh mode berkendara: Normal, Wet, Gravel, Mud, Tarmac, EV Priority, dan Charge. Dua di antaranya—Gravel dan Mud—mungkin tidak lazim menghiasi brosur SUV hybrid kompak, tetapi justru terasa dekat dengan jalan Indonesia yang dapat berubah menjadi kubangan selepas hujan. 

Di medan licin semacam itu, Active Yaw Control (AYC) membantu menjaga gerak mobil tetap patuh pada arah kemudi. Teknologi yang dahulu membantu Lancer Evolution bersama Tommi Mäkinen mendominasi World Rally Championship pada paruh kedua 1990-an itu, bekerja sepenuhnya secara elektronik tanpa meminta input tambahan dari pengemudi.

Sementara itu, Charge Mode memungkinkan mesin mengisi baterai selama mobil berjalan, sehingga cadangan tenaga listrik tetap tersedia untuk perjalanan panjang. Ground clearance 222 mm turut melengkapi keleluasaan tersebut, memberi ruang bagi Xforce HEV untuk tetap melangkah ketika jalan tak selalu rata dan cuaca enggan bersahabat.

Kenyamanan yang Diurus, Kekhawatiran yang Dihapus

Mitsubishi New Xforce HEV Hadir dengan Teknologi Hybrid Generasi Kedua

Kerumitan teknologi hybrid diserap ke dalam sistem, sementara yang sampai ke pengemudi hanyalah kesederhanaan: masuk, nyalakan, lalu berkendara. ‘Otak komputer’ membaca kecepatan, posisi pedal, kondisi baterai, hingga situasi jalan, kemudian menentukan kombinasi tenaga yang paling efisien dalam hitungan milidetik. Pengemudi tak perlu memikirkan kapan mesin bekerja atau kapan motor listrik mengambil alih; semuanya berlangsung diam-diam di balik kemudi.

Dengan dimensi 4.390 × 1.810 × 1.650 mm dan sumbu roda 2.650 mm, kabinnya membawa kelengkapan yang dekat dengan kebutuhan keluarga. Ada panoramic glass roof, bangku belakang dengan delapan pengaturan, Dual Auto A/C ber-NanoeX, jok pengemudi elektrik, power tailgate, ambient light, kamera 360°, hingga Yamaha Premium Audio pada paket tertentu. 

Sisi keselamatan dilengkapi Mitsubishi Motors Safety Sensing yang mencakup Adaptive Cruise Control dengan Low Speed Control, Forward Collision Mitigation, dan Automatic High Beam.

Kekhawatiran yang kerap hadir pada pembeli hybrid pertama—umur dan biaya baterai—mendapat jawaban lewat garansi baterai HEV hingga 10 tahun atau 200.000 km, ditambah pengecekan baterai gratis hingga 5 tahun. 

Dirakit di dalam negeri oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia sebagai hybrid pertama Mitsubishi buatan Indonesia, Xforce HEV sekaligus menjadikan pabrik tersebut basis produksi untuk kawasan ASEAN. Rantai suku cadang pun lebih dekat, sementara teknisi mendapat pelatihan di dalam negeri.

Harganya dimulai dari Rp445 juta dan mencapai Rp470 juta untuk Premium Package. Di sisi lain, lini bensin tetap tersedia melalui Exceed seharga Rp388 juta dan Ultimate Rp399 juta. Pilihan akhirnya kembali kepada kebutuhan, tetapi arahnya mulai menunjukkan satu hal: elektrifikasi tidak harus berarti perubahan yang merepotkan.

Serial bensin telah menempuh jalannya; babak hibrida kini mulai dibuka. Namun, lompatan Xforce HEV tidak semata terletak pada seberapa rumit teknologinya, seberapa besar layarnya, atau seberapa asing istilah yang dibawanya. Nilainya justru terasa ketika semua itu bekerja tanpa banyak meminta perhatian.

Sebab kemajuan yang sesungguhnya bukan yang menuntut pemiliknya berpindah arah, melainkan yang membuat setiap perjalanan terasa lebih ramah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya