Liputan6.com, Jakarta - Setiap pagi rutinitasnya sama. Keluar rumah, putar kunci, turun dari Pujon, Kabupaten Malang, menembus kabut, lalu menghadapi kemacetan Kota Malang. Sore hari, rute yang sama ditempuh sebaliknya—kali ini dengan tanjakan sebagai lawan.
Sekarang, bayangkan hanya satu hal yang berubah: motor bensin 110 cc diganti VinFast EVO.
Advertisement
Pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih motor listrik tersebut. Jauh lebih sederhana: sanggupkah ia mengikuti rutinitas pemiliknya?
Untuk menjawabnya, kami menyusun simulasi penggunaan selama tujuh hari. Ini bukan test ride, melainkan simulasi berbasis spesifikasi resmi VinFast, jarak tempuh rute harian, kapasitas baterai, sebaran stasiun tukar baterai V-Green yang kami telusuri di lapangan, serta tarif listrik dan bahan bakar yang berlaku.
Ada satu batasan penting. Kami tidak memakai angka klaim pabrikan secara mentah. VinFast menguji jarak tempuh pada kecepatan konstan 30 km/jam di lintasan datar. Rute kami berbeda: turun sekitar 1.000 meter dari pegunungan, lalu kembali menanjak melalui jalur berkelok.
Karena itu, klaim 150 kilometer kami pangkas menjadi 60 persen. Dari 50 km/kWh menjadi 30 km/kWh.
Semua perhitungan menggunakan asumsi konservatif, dengan tiga parameter yang diuji: nyaman, efisien, dan dapat diandalkan. Dan hasilnya tetap menarik!
Mengenal Dulu Apa yang Diuji
Sebelum masuk ke hari pertama, mari lihat apa yang sebenarnya bekerja di balik bodi EVO. Sebab sejumlah keunggulannya bukan lahir dari slogan, melainkan dari pilihan teknis.
Baterai LFP, bukan lithium-ion biasa. VinFast menggunakan Lithium Ferro Phosphate. Ambang thermal runaway-nya sekitar 270 derajat Celsius, lebih tinggi dibanding kimia NMC yang umum digunakan pada motor listrik murah, sekitar 200 derajat.
Sederhananya, LFP lebih sulit mengalami thermal runaway. Untuk kendaraan yang bisa diparkir di garasi dan diisi semalaman, ini bukan detail kecil.
LFP juga memiliki usia siklus sekitar 2.000–3.000 kali pengisian penuh. Dua hingga tiga kali lipat NMC. Pengisian hingga 100 persen setiap hari pun bukan masalah besar. Dalam ekosistem swap, keawetan ini semakin penting karena baterai yang diterima di stasiun bisa saja sebelumnya digunakan pemilik lain.
Motor BLDC in-wheel. Penggerak menempel langsung di roda. Tidak ada rantai, CVT, gardan, maupun oli transmisi.
Artinya sederhana: lebih sedikit komponen yang perlu dirawat.
Dengan dua baterai, dayanya mencapai 5.200 watt, naik dari 3.000 watt saat hanya menggunakan satu baterai. Ditambah karakter motor listrik yang menghasilkan torsi sejak putaran nol, kombinasi ini menjadi modal penting menghadapi tanjakan Pujon—termasuk ketika harus berhenti lalu kembali berjalan di tengah tanjakan.
Sertifikasi IP67. Motor dan baterai dirancang tahan terendam hingga setengah meter selama 30 menit. Untuk wilayah seperti Pujon yang akrab dengan kabut dan hujan, angka ini punya relevansi langsung.
Kemudian ada garansi 6 tahun atau 72.000 kilometer. Dengan pola pemakaian simulasi ini, jarak 72.000 kilometer baru tercapai sekitar dua setengah tahun; dalam skenario tersebut, batas waktulah yang lebih dulu berlaku.
Tiga Skema Kepemilikan
| Skema | VinFast EVO | Biaya baterai bulanan |
|---|---|---|
| Langganan baterai | Rp17,5 juta | Rp84.000 (1 baterai) / Rp144.000 (2 baterai) |
| Beli dengan 1 baterai | Rp21,14 juta | Rp0 |
| Beli dengan 2 baterai | Rp24,78 juta | Rp0 |
Simulasi ini menggunakan EVO dua baterai—konfigurasi yang paling lega untuk rute campuran pegunungan.
Senin: Perjalanan Pertama dan Konsep 'Margin Range'
Dua baterai menyediakan kapasitas 3 kWh. Dengan asumsi efisiensi 30 km/kWh, tersedia sekitar 90 kilometer jangkauan kerja.
Kebutuhan hari itu 56 kilometer, atau sekitar 1,87 kWh. Artinya, 62 persen kapasitas terpakai dan masih tersisa 1,13 kWh—setara sekitar 34 kilometer.
Di sinilah istilah yang akan terus muncul sepanjang simulasi ini menjadi penting: margin range.
Bukan sekadar seberapa jauh motor bisa berjalan, melainkan seberapa banyak jarak aman yang tersisa setelah kebutuhan harian terpenuhi.
Margin Senin: 61 persen di atas kebutuhan.
Angka ini menarik karena rutenya tidak mudah. Pagi hari motor turun sekitar 700 meter dari Pujon menuju Malang, lalu sore kembali menanjak melalui Jalur Payung yang sempit dan berkelok.
Di sini regenerative braking bekerja dua kali: memanen energi ketika motor melaju turun sekaligus membantu menahan laju. Beban rem mekanis pun berkurang.
Malamnya, baterai kembali diisi di rumah. Untuk mengembalikan 1,87 kWh dibutuhkan sekitar 5,6 jam, dengan biaya sekitar Rp2.780. Angka resmi pengisian 9 jam berlaku untuk kondisi dari nol, sesuatu yang praktis tidak terjadi dalam pemakaian harian.
Perbedaannya sederhana, tetapi terasa: motor bensin harus dibawa ke SPBU. Motor listrik bisa mengisi dirinya sendiri ketika pemiliknya tidur.
Selasa: Ketika Range Anxiety Dihitung, Bukan Dirasakan
Hari kedua lebih tidak teratur. Ada mampir ke minimarket, menjemput keluarga, dan mencari makan siang lebih jauh dari kantor.
Tambahan 20 kilometer membuat total perjalanan menjadi 76 kilometer. Konsumsi mencapai 2,53 kWh, menyisakan margin sekitar 14 kilometer.
Survei Populix terhadap 350 pengguna kendaraan listrik di Jakarta menemukan 65 persen responden mengkhawatirkan daya tahan baterai saat bepergian. Kekhawatiran berikutnya adalah keterbatasan jarak tempuh sebesar 61 persen dan fasilitas pengisian yang dianggap terbatas oleh 43 persen responden.
Kekhawatiran itu wajar, sampai angka-angkanya dihitung.
Untuk kondisi seperti ini, pengendara bisa mampir ke salah satu dari delapan BBS V-Green yang kami temukan di jalur Pujon–Batu–Kota Malang. Titiknya tersebar di Kantor Pos Kecamatan Pujon, dua Planet Ban di Kota Batu, kawasan Dau, Lawson Kota Malang, Planet Ban Blimbing, hingga Lawson dekat Perumahan Araya.
Sebagai pembanding, jalur yang sama memiliki 10 SPBU Pertamina.
Delapan BBS berbanding 10 SPBU.
Untuk teknologi yang relatif baru, angka tersebut cukup menarik. Terlebih, titik-titiknya tidak terkumpul di satu kawasan. Ada pilihan berikutnya di sepanjang rute.
Rabu: Ketika Baterai Menjadi "SPBU" Baru
Motor bensin punya pola sederhana:
Jarum turun hampir empty, cari SPBU, antre, isi bensin, bayar dan kembali jalan.
VinFast menawarkan dua jalur yang saling melengkapi.
Jalur utama: mengisi di rumah. Motor diisi ketika sedang tidak digunakan. Untuk kebutuhan harian 56 kilometer, sekitar 5,6 jam pengisian malam sudah cukup, dengan biaya Rp2.780.
Tidak perlu antre. Tidak perlu perjalanan khusus ke SPBU. Tidak ada waktu yang terbuang.
Jalur cadangan: tukar baterai. Fungsinya bukan mengisi energi, melainkan mengganti sumber energi ketika motor harus segera kembali berjalan. VinFast menyebut prosesnya di bawah dua menit untuk EVO dan bahkan di bawah satu menit untuk Viper.
Rumusnya sederhana: charging mengisi energi saat motor beristirahat. Swap mengganti energi ketika pengendara tidak punya waktu untuk beristirahat.
Di titik ini, ekosistem menjadi sama pentingnya dengan motornya.
V-Green menargetkan 2.000 titik BBS di Jabodetabek dan Pulau Jawa. Angka itu berpotensi bertambah setelah penandatanganan Nota Kesepahaman antara MPStore (PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk/MPIX) dan PT VGreen Global Charging Station Investment Indonesia pada 19 Mei 2026, dengan rencana membangun hingga 20.000 unit stasiun penukaran baterai di jaringan properti nasional.
Yang menarik, jaringan tersebut memanfaatkan tempat yang sudah dikenal: kantor pos, minimarket, bengkel, dan lokasi lain yang memang sudah menjadi bagian dari rutinitas berkendara.
Pengguna motor listrik VinFast tidak harus membangun kebiasaan baru. Cukup berhenti di tempat yang memang sudah biasa mereka lewati.
Kamis: Berapa Rupiah yang Berpindah dari Tangki ke Baterai?
Motor bensin mencatat konsumsi 60 kilometer per liter. Untuk perjalanan 56 kilometer, kebutuhan hariannya sekitar 0,93 liter Pertalite atau Rp9.333.
EVO membutuhkan sekitar 1,87 kWh. Setelah memperhitungkan rugi pengisian 10 persen, meteran membaca sekitar 2,06 kWh.
Dengan tarif Rp1.352 per kWh, biayanya sekitar Rp2.780 per hari.
Perbedaannya terlihat jelas ketika dihitung per kilometer:
| Biaya per kilometer | Biaya |
|---|---|
| Motor bensin (BBM saja) | Rp167 |
| VinFast EVO (isi di rumah) | Rp50 |
EVO hanya membutuhkan sekitar sepertiga biaya energi motor bensin.
Dan angka itu masih menggunakan asumsi efisiensi yang sudah dipangkas 40 persen dari klaim pabrikan.
Selisih satu hari mencapai Rp6.553. Terlihat kecil, tetapi rutinitas punya kebiasaan menumpuk.
Jumat: Perawatan yang Nyaris Menghilang
Di sinilah selisih biaya mulai melebar.
Motor bensin memiliki jadwal perawatan rutin: oli mesin Rp65.000 setiap dua bulan, oli gardan Rp35.000 setiap tiga bulan, dan servis rutin Rp75.000 setiap dua bulan.
Jika dirata-rata, biaya tersebut mencapai Rp81.667 per bulan. Itu belum termasuk busi, filter, atau biaya tak terduga di bengkel.
Pada EVO, tiga pos tersebut hilang.
| Pos perawatan | Motor bensin 110 cc | VinFast EVO |
|---|---|---|
| Oli mesin | Rp65.000 / 2 bulan | Tidak ada |
| Oli gardan | Rp35.000 / 3 bulan | Tidak ada |
| Servis rutin (busi, filter, CVT) | Rp75.000 / 2 bulan | Tidak ada |
| Total per bulan | Rp81.667 | Rp0 |
Penyebabnya bukan sekadar klaim pemasaran, tetapi struktur kendaraannya. Tidak ada komponen rumit layaknya Internal Combustion Engine (ICE). Yang tersisa adalah baterai. Dan di sini LFP kembali memberi keuntungan dengan usia 2.000–3.000 siklus serta toleransi terhadap pengisian penuh setiap hari.
Dalam praktiknya, "perawatan baterai" menjadi sederhana: colok malam hari, selesai. Ditambah garansi enam tahun atau 72.000 kilometer, komponen paling mahal pada motor listrik justru mendapat perlindungan paling panjang.
Sabtu: Ketika Rutinitas Berubah
Kali ini kondisinya berbeda. Berboncengan, membawa belanjaan, berhenti-jalan di area parkir, lalu menghadapi tanjakan pulang dengan beban lebih berat.
Konsumsi mencapai 1,5 kWh dari kapasitas 3 kWh.
Margin: 100 persen di atas kebutuhan.
Di sinilah konfigurasi dua baterai terasa manfaatnya. Daya 5.200 watt dan torsi instan membuat tanjakan Payung dengan boncengan terasa lebih ringan dibanding karakter motor bensin 110 cc yang biasanya membutuhkan putaran mesin lebih tinggi dan perpindahan rasio.
Ada satu keuntungan lain yang tidak muncul di tabel: EVO nyaris tanpa suara dan getaran.
Di dalam kota, perjalanan terasa lebih santai. Di kompleks perumahan pada pagi buta, suara motor juga tidak lagi menjadi persoalan.
Minggu: Klimaks — 216 Kilometer Pulang Kampung
Hari terakhir, hal yang paling sering membuat calon pengguna motor listrik ragu: keluar dari rutinitas.
Rute: dari Pujon hingga Aloon-Aloon Tulungagung dan kembali pulang ke Pujon. 108 kilometer sekali jalan, 216 kilometer pulang-pergi.
Rutenya melewati pegunungan Pujon hingga Wlingi, koridor perkotaan Wlingi–Srengat, kemudian jalur pedesaan menuju Tulungagung.
Perjalanan sejauh ini membutuhkan perencanaan. Justru di sinilah jaringan V-Green diuji.
Berangkat dengan baterai penuh dari rumah. Sekitar 80 kilometer pertama menuju Blitar ditempuh sambil menuruni pegunungan, dengan regenerative braking memanen kembali energi sepanjang turunan.
Satu kali tukar baterai di Blitar, perjalanan dilanjutkan menuju Tulungagung dengan sekitar 70 persen baterai masih tersisa—cukup untuk berkeliling kota sebelum kembali.
Masalah sebenarnya baru muncul saat pulang.
Tulungagung berada di sekitar 85 mdpl, sedangkan Pujon berada di 1.150 mdpl. Artinya, perjalanan pulang adalah pendakian sekitar 1.000 meter.
Kuncinya bukan berhenti lebih sering, tetapi berhenti di tempat yang tepat.
Baterai dari Tulungagung masih mampu membawa motor melewati Blitar hingga kawasan Wlingi, tepat ketika jalan mulai benar-benar menanjak. Tukar baterai di sana, lalu 53 kilometer terakhir yang didominasi tanjakan diselesaikan dengan sisa sekitar 28 persen.
Totalnya: 216 kilometer. Dua kali tukar baterai. Waktunya kurang dari empat menit.
Pelajarannya sederhana untuk medan berbukit: tukar baterai sebelum tanjakan, bukan sesudahnya.
Menariknya, dua pemberhentian tersebut tidak harus terasa seperti gangguan. Rute ini melewati Taman Kemesraan, Rambut Monte di Gandusari, Candi Penataran di Nglegok, hingga Alun-alun Blitar.
Motor bensin berhenti ketika tangki kosong.
Motor listrik bisa berhenti karena memang ingin berhenti—dan kebetulan sekalian menukar baterai.
Setelah 7 Hari, Berapa yang Dihemat?
| Parameter | Motor bensin 110 cc | VinFast EVO |
|---|---|---|
| Jarak 7 hari | 541 km | 541 km |
| Energi | 9,02 liter Pertalite | 18,03 kWh |
| Biaya energi | Rp90.167 | Rp44.573 |
| Pengisian di rumah | – | 6 malam |
| Tukar baterai | – | 2 kali (total 4 menit) |
| Perawatan rutin (proporsional) | Rp18.780 | Rp0 |
| Total biaya sepekan | Rp108.947 | Rp44.573 |
| Biaya per kilometer | Rp201 | Rp82 |
Penghematan sepekan mencapai Rp64.374, atau 59,1 persen. Dan angka itu sudah mencakup perjalanan lintas kabupaten sejauh 216 kilometer.
Pada pekan kerja biasa tanpa road trip—325 kilometer dengan pengisian di rumah—selisihnya bahkan lebih lebar: Rp72.947 berbanding Rp16.111. Hemat 77,9 persen.
Masih ada satu kartu lain, promo tukar baterai gratis selama satu tahun, maksimal 20 penukaran per bulan per kendaraan.
Dua penukaran dalam simulasi road trip ini masih jauh di bawah kuota. Artinya, selama periode promo, biaya pekan tersebut turun menjadi sekitar Rp20.573—hemat 81,1 persen.
Jika diproyeksikan pada pola pemakaian normal:
| Periode | Penghematan |
|---|---|
| Per bulan | Rp247.000 |
| Per tahun | Rp2,96 juta |
| Enam tahun (masa garansi) | Rp17,79 juta |
Angka terakhir cukup mencolok.
Rp17,79 juta setara sekitar 102 persen harga satu unit VinFast EVO baru dengan skema langganan baterai. Dengan kata lain, selama satu periode garansi, uang yang sebelumnya habis di tangki bensin secara akumulatif sudah setara harga satu motor lagi.
Epilog: Partner Harian yang Angkanya Bicara Sendiri
Simulasi tujuh hari ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penghematan.
Motor listrik bukan hanya mengganti bensin dengan listrik. Ia mengubah cara pemilik mengelola mobilitas.
Dulu pertanyaannya, "kapan harus ke SPBU?"
Kini motor bisa mengisi dirinya sendiri ketika pemilik tidur.
Dulu, "berapa liter yang tersisa?"
Kini, pertanyaannya berubah menjadi "berapa margin range yang saya punya hari ini?"
Dulu, "kapan ganti oli?"
Kini, tidak ada oli yang perlu diganti.
Tiga parameter yang kami tetapkan di awal pun mulai menemukan jawabannya.
| Aspek | Hasil simulasi |
|---|---|
| Perjalanan harian 56 km | Sangat memungkinkan — margin 61% |
| Hari dengan agenda padat | Aman — BBS tersedia di sepanjang jalur |
| Akhir pekan berboncengan | Nyaman — margin 100% |
| Perjalanan jauh 216 km | Tuntas dengan 2 kali swap, total 4 menit |
| Biaya energi | Sepertiga motor bensin |
| Perawatan rutin | Tiga pos hilang, Rp81.667/bulan menjadi nol |
| Pengisian di rumah | 5,6 jam semalam, Rp2.780 |
| Tukar baterai | Di bawah 2 menit, gratis di tahun pertama |
| Kerapatan infrastruktur | 8 BBS berbanding 10 SPBU di jalur yang sama |
| Hujan dan medan basah | Terlindungi IP67 |
| Keamanan baterai | LFP, ambang termal ~270°C |
| Ketenangan jangka panjang | Garansi 6 tahun / 72.000 km |
Nyaman, karena kebutuhan harian 56 kilometer masih menyisakan margin tanpa perlu berhenti, dengan minim suara dan getaran serta torsi instan untuk menghadapi tanjakan Pujon.
Efisien, karena biaya energi per kilometer turun menjadi sepertiga motor bensin, tiga pos perawatan rutin hilang, dan proyeksi enam tahun menunjukkan selisih sangat besar.
Dapat diandalkan, karena titik BBS V-Green di sepanjang rute hampir menyamai jumlah SPBU, sementara jaringan yang ditargetkan terus berkembang.
Pada akhirnya, range anxiety mungkin bukan semata persoalan jarak, melainkan informasi.
Ketika peta stasiun tersedia, jarak dihitung dengan asumsi konservatif, dan biaya dijumlahkan, ketakutan mulai berubah menjadi keputusan.
Dan dengan pintu masuk mulai Rp17,5 juta, keputusan itu mungkin lebih ringan dari yang dibayangkan.