Menakar Efisiensi E-Motorcycle VinFast, Skema Daily Menguji Batas Elektrifikasi

Kami menguji langsung efisiensi e-motorcycle VinFast. Benarkah lebih hemat dan siap menggantikan motor bensin?

Diterbitkan 27 Juli 2026, 10:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran saat memiliki motor listrik bukan lahir karena kendaraannya, melainkan ekosistem di sekitarnya. Keresahan terbesar calon pengguna justru muncul dari pertanyaan sederhana: apakah baterai cukup? Kalau habis, di mana bisa mengisi daya? Apa benar bisa jauh lebih hemat?

Survei Populix terhadap 350 pengguna kendaraan listrik di Jakarta menemukan 65 persen responden mengkhawatirkan daya tahan baterai saat bepergian. Disusul keterbatasan jarak tempuh (61 persen) dan fasilitas pengisian daya yang masih terbatas (43 persen).

Ketakutan itu sama kami rasakan. Lalu hadir tiga motor listrik (e-motorcycle) baru dari VinFast: EVO, Feliz II, dan Viper. Klaimnya menjanjikan, bahkan banyak yang menyebutnya sebagai salah satu lini e-motorcycle paling proper di kelasnya. Game changer mereka salah satunya adalah battery swap (tukar baterai) dengan fasilitas yang disebut sudah tersebar melimpah ke berbagai daerah.

Kami pun penasaran dan tergerak membuat simulasi bagaimana bila motor listrik VinFast itu, menggantikan motor bensin kami. Penentuan parameternya sederhana: menguliti jarak jelajah, membuktikan kesiapan fasilitas charging dan menghitung rasio kepemilikan serta operasional motor listrik ini dibandingkan motor bensin. Sampai akhirnya menarik kesimpulan, sejauh mana motor listrik ini bisa menggantikan kuda besi tunggangan kami sehari-hari.

Patokan kami samakan dengan rute setiap hari kerja tim redaksi yang menempuh 28 kilometer dari rumah ke kantor, lalu 28 kilometer lagi untuk pulang: 56 kilometer sehari, lima hari seminggu. 

Lokasi yang dipilih sengaja mengambil wilayah kerja di Malang, Jawa Timur. Soalnya, area Jabodetabek sudah riuh infrastruktur EV dan tentu saja lebih siap daripada kota-kota lain. Mengambil rute dari kawasan pegunungan Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dengan rata-rata elevasi 1.100 hingga 1.200 mdpl, kemudian turun melewati Kota Batu hingga finish di Kota Malang, simulasi ini akan lebih menantang: campuran pegunungan hingga lalu lintas urban yang padat.

Ternyata benar adanya. Temuan penelusuran ini cukup di luar dugaan.

Menyusuri Ekosistem V-Green

Langkah awal adalah menyusuri titik-titik battery swap station (BBS) V-Green sepanjang lajur yang kami lewati. Sebab, logika pertama untuk menantang range anxiety ialah memastikan infrastruktur ready, hingga muncul harapan untuk membeli.

Screening dimulai berdasarkan peta stasiun V-Green di website resmi VinFast: vinfastauto.id/find-us. Ternyata, belum semua stasiun menyediakan layanan battery swap. Akhirnya kami gabungkan metodenya dengan pengamatan mata di lapangan dan berselancar media sosial untuk menyisir lebih banyak tempat.

Pit stop pertama kami adalah BBS di Kantor Pos Kecamatan Pujon. Lokasinya kebetulan tak jauh dari titik keberangkatan. Di sini tersedia dua fasilitas sekaligus, yakni charger mobil listrik dan tukar baterai.

Perjalanan pagi menuju Kota Batu saat itu masih diselimuti kabut dengan kondisi jalan menurun. Regenerative braking harusnya terjadi di sini, mengubah energi kinetik mejadi listrik, sehingga baterai justru pelan-pelan terisi. Kalau tidak mau isi daya di rumah atau swap di Pujon, ternyata kami menemukan satu titik BBS di Planet Ban Jalan Agus Salim. Sekitar tiga kilometer dari sana, outlet Planet Ban lainnya juga telah dilengkapi BBS V-Green, tepatnya di Jalan Ir. Soekarno.

Kalau baterai masih banyak di area Kota Batu, tidak perlu cemas. Ketersediaan stasiunnya punya pola serupa, mudah ditemukan mulai dari Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hingga Kota Malang. Bedanya, BBS tidak hanya hadir di Kantor Pos atau Planet Ban, tetapi juga mulai mengisi convenience store populer seperti Lawson.

Perjalanan berlanjut melalui Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang menuju Kecamatan Blimbing. Di kawasan ini, BBS V-Green juga ada di outlet Planet Ban. Sementara itu, titik terdekat dengan lokasi akhir berada di Lawson yang berdekatan dengan kawasan Perumahan Araya.

Sepanjang lintasan ini, terdapat 8 BBS V-Green. Kalau dibandingkan dengan SPBU Pertamina sebanyak 10 unit tersebar sepanjang jalur yang sama, maka jumlah BBS V-Green bisa dibilang hampir setara.

Beginilah peta gambaran lokasi BBS V-Green sepanjang rute kami:

Yang membuat kami berpikir sejenak bukan soal jumlah, melainkan sebarannya. Titik-titik itu tidak menumpuk di satu kawasan, selalu ada opsi berikutnya dalam beberapa kilometer ke depan. 

Selaras dengan temuan itu, V-Green sendiri memang menargetkan akan memasang 2.000 titik BBS tersebar di area Jabodetabek dan Pulau Jawa. Angka tersebut akan terus bertumbuh mengingat telah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) antara MPStore (PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk/MPIX) dan PT VGreen Global Charging Station Investment Indonesia pada 19 Mei 2026 untuk membangun hingga 20.000 unit stasiun penukaran baterai motor listrik VinFast di jaringan properti nasional. 

Hal ini secara langsung memupuskan ketakutan konsumen dalam Survei Populix bahwa 42 persen khawatir soal lokasi stasiun pengisian yang dinilai masih sedikit dan berjauhan.

Ada satu hal lagi yang menjelaskan kenapa jaringan ini tumbuh secepat itu: lokasinya berada di infrastruktur yang sudah ada dan dipercaya. Kantor pos, minimarket, bengkel: tempat yang nyaman dan safety serta sudah lama jadi bagian dari peta mental kita saat berkendara.

Pemilihan Motor Sesuai Rute

Jarak Pujon hingga Kota Batu sekitar 8 kilometer melewati jalur pegunungan Payung yang berkelok, berkabut, dan licin saat musim hujan. Topografi jalan masih menurun sampai Desa Pendem, Kecamatan Dau. Setelah itu, baru mendatar dan masuk ke kemacetan Kota Malang. Kira-kira panjang turunan atau tanjakan ketika kembali pulang sejauh 15 kilometer. Pegunungan, jalan desa, hingga lalu lintas stop-and-go berpadu dalam satu lalu lintas.

Kami bandingkan spesifikasi ketiganya:

Kecepatan puncak bukan pertimbangan utama. Di jalur Pujon maupun kemacetan Kota Malang, angka 90 km/jam praktis jarang terpakai. Yang lebih penting adalah tenaga, efisiensi, dan jarak tempuh.

Kalau soal teknis motor, ketiganya bisa dibilang mirip-mirip. Beberapa kesamaan antara lain, baterai LFP yang lebih tahan panas, lebih awet, dan lebih ideal untuk ekosistem tukar baterai karena degradasinya lebih lambat. Kemudian, konfigurasi dua baterai yang meningkatkan tenaga menjadi 5.200 watt—cukup berarti ketika menaklukkan tanjakan panjang tanpa kehilangan torsi sejak putaran pertama. 

Mempertimbangkan seluruh parameter itu, terlepas dari sisi desain yang semuanya modern ala Eropa, akhirnya kami memilih VinFast EVO dengan dua baterai. Dimensinya paling ringkas sehingga lebih lincah di tikungan pegunungan maupun sela-sela kendaraan di kota. Jarak tempuhnya juga paling tinggi di antara ketiganya, sementara harganya menjadi yang paling terjangkau. 

Namun ada yang kami sesuaikan. Klaim 150 kilometer diperoleh pada kecepatan konstan 30 km/jam di lintasan datar—kondisi yang jauh berbeda dengan rute kami. Karena itu, kami memangkas angka tersebut hingga 40 persen dan menggunakan asumsi konservatif 30 km/kWh. Akan tetapi, rupanya dua baterai masih sanggup menempuh sekitar 90 kilometer, atau menyisakan cadangan sekitar 34 kilometer setelah kebutuhan harian kami sejauh 56 kilometer terpenuhi.

Bahkan dengan skenario yang sengaja dibuat pesimistis, EVO tetap menawarkan ruang aman. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, setidaknya kami sudah fasih mengingat jaringan V-Green di sepanjang rute sebagai cadangan. Bagi kami, itulah kombinasi yang paling masuk akal: tenaga yang cukup, efisiensi yang realistis, dan ketenangan untuk dipakai setiap hari.

Seberapa Besar Penghematannya?

Motor sudah dipilih. Jarak tempuhnya juga memenuhi kebutuhan. Tinggal satu pertanyaan: benarkah motor listrik lebih hemat?

Sebagai pembanding, kami menggunakan motor bensin 110 cc yang selama ini menempuh rute 1.232 kilometer per bulan.

Dengan konsumsi 60 km/liter, kebutuhan Pertalite mencapai sekitar 20,5 liter per bulan atau setara Rp205.333. Ditambah oli mesin, oli gardan, dan servis rutin, biaya perawatan mencapai sekitar Rp81.667. Total operasionalnya menjadi Rp287.000 per bulan atau Rp3,44 juta per tahun, belum termasuk ban, kampas rem, dan komponen yang aus seiring pemakaian.

Di sisi lain, motor listrik tetap membutuhkan perawatan, tetapi jauh lebih sederhana. Pada sistem BLDC in-wheel, tidak ada oli mesin, oli gardan, maupun CVT yang harus dirawat. Tiga pos biaya rutin tersebut praktis hilang.

VinFast sendiri menawarkan tiga skema kepemilikan: langganan baterai, beli dengan satu baterai, dan beli dengan dua baterai. Untuk pengujian ini, kami menggunakan asumsi konservatif 30 km/kWh, sehingga perjalanan kami per bulan membutuhkan sekitar 45 kWh listrik, termasuk rugi pengisian. Pada tarif PLN golongan 900 VA nonsubsidi, biaya mengisi daya di rumah hanya sekitar Rp61.100 per bulan.

Alternatifnya adalah memanfaatkan BBS. Jika seluruh kebutuhan dipenuhi melalui penukaran baterai, biayanya sekitar Rp168.000 per bulan. Selama tahun pertama, promo gratis hingga 20 kali penukaran membuat angka tersebut turun menjadi sekitar Rp48.000.

Hasilnya cukup menarik. Dengan dua baterai, diisi semalaman di rumah dan memanfaatkan BBS hanya sebagai cadangan, biaya operasional bulanan turun menjadi sekitar Rp61.100 atau 78,7 persen lebih rendah dibanding motor bensin.

Selisih Rp225.900 bisa bertumbuh menjadi Rp2,71 juta dalam setahun, Rp13,55 juta dalam lima tahun, dan Rp16,26 juta pada akhir masa garansi VinFast selama 6 tahun atau 72.000 kilometer (terpanjang dibanding standar industri). 

Kami validasi lagi dengan bertanya kepada Cendi Tito, karyawan swasta asal Kota Malang yang telah menggunakan motor listrik selama dua tahun. Persis, biaya operasional turun drastis dibanding saat masih memakai motor bensin.

"Dulu saya bisa menghabiskan sekitar Rp100 ribu untuk bensin dalam seminggu. Sekarang, uang Rp100 ribu untuk isi token listrik bisa dipakai sampai tiga minggu. Jadi memang jauh lebih hemat," ujar Cendi.

Cendi mengaku motor listriknya rutin digunakan untuk mobilitas antarkota, mulai dari Malang, Surabaya, hingga Sidoarjo. Penghematan yang diperoleh pun tidak lagi habis di jalan.

"Uang yang dulu biasanya buat beli bensin sekarang saya alihkan untuk belanja bulanan. Jadi terasa sekali manfaatnya buat kebutuhan rumah tangga," katanya.

Angka itu mungkin tidak langsung mengubah kondisi finansial seseorang, tetapi cukup memberi ruang bernapas bagi anggaran rumah tangga. Ketimbang habis ‘terbakar’ di jalan, penghematannya bisa dialihkan untuk pos finansial lain misalnya pendidikan anak, liburan bersama keluarga, menambah saldo token listrik, membeli paket data dan pulsa smartphone, atau kebutuhan penting lain yang sebelumnya harus berbagi dengan pengeluaran bensin dan perawatan motor.

Kesimpulan Akhir

Simulasi ini berangkat dari rasa penasaran, bukan kekaguman. Kami ingin menjawab tiga sumber utama range anxiety calon pengguna motor listrik: apakah infrastrukturnya sudah memadai, apakah jarak tempuhnya cukup untuk mobilitas harian, dan apakah total cost of ownership (TCO) benar-benar lebih unggul dibanding motor bensin.

Dengan skenario yang sengaja dibuat konservatif, hasilnya justru melampaui dugaan. Jaringan BBS V-Green telah tersebar di sepanjang rute kami dengan jumlah yang hampir setara SPBU. Sementara itu, meski klaim jarak tempuh kami pangkas menjadi hanya 60 persen untuk mensimulasikan medan pegunungan, kemacetan, dan beban harian, VinFast EVO dua baterai secara teori masih menyisakan cadangan daya sekitar 61 persen di atas kebutuhan.

Dari simulasi ini, ada beberapa hal yang paling menonjol:

  • Ekosistem lebih dulu: Jaringan BBS sudah tersedia sebelum motor dipasarkan.
  • Battery swap dalam hitungan detik: Cukup Rp6.000 sekali tukar, tanpa perlu menunggu baterai terisi.
  • Gratis battery swap setahun penuh: Berlaku hingga 20 kali penukaran setiap bulan.
  • Kepemilikan baterai lebih fleksibel: Bisa dibeli putus atau disewa mulai Rp84.000 per bulan, sehingga risiko degradasi baterai ditanggung pabrikan.
  • Garansi hingga 6 tahun atau 72.000 km: Termasuk baterai, bahkan lebih panjang dari periode balik modal.
  • Baterai LFP yang lebih tangguh: Lebih stabil secara termal dan memiliki siklus pakai lebih panjang dibanding kimia baterai lain yang umum digunakan.
  • Perawatan lebih sederhana: Motor BLDC in-wheel 5.200 watt menghilangkan kebutuhan oli mesin, rantai, v-belt, roller, busi, dan filter udara.

Keunggulan tersebut diperkuat oleh sisi biaya, yang bisa menurunkan operasional bulanan hampir 79 persen lebih rendah dibanding motor bensin. Dalam satu siklus garansi, penghematannya terkumpul hingga belasan juta rupiah, sangat berarti untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga. 

Akhirnya kesimpulan kami adalah, benar bahwa motor listrik VinFast cocok menggantikan peran kuda besi kami selama ini.

Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Barangkali, itulah yang selama ini terjadi pada motor listrik. Keraguan muncul sebelum pengalaman datang. Namun ketika ekosistem dipetakan, jarak tempuh dihitung, dan TCO ditimbang dengan kepala dingin, kepercayaan tumbuh bukan karena janji, melainkan karena bukti.

Dan ini belum usai. Simulasi hanyalah angka awal. Tunggu kami menguji langsung motor listrik VinFast ini menghadapi tantangan sesungguhnya. Sebab pada akhirnya, yang paling fasih berbicara bukan kata, melainkan aspal yang dilaluinya.