Mitsubishi New Xforce HEV: Titik Simpul Warisan Reli dan Listrik yang Mengalir dalam Satu Sasis

Mitsubishi New Xforce HEV dengan value proposition yang unik. SUV kompak ini menawarkan hal berbeda dibandingkan mode hybrid kebanyakan di pasaran.

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 12:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di Hall 10A ICE BSD City GIIAS 2026, sebuah SUV kompak berdiri tanpa satu pun kabel tergeletak di dekatnya. Detail kecil itu menjelaskan separuh ceritanya.

Separuh sisanya justru tersimpan di tempat yang jauh lebih tua: lintasan reli bersalju di Finlandia pada 1996, dan sebuah laboratorium di Jepang tempat sekelompok insinyur menolak menyerah pada proyek mobil listrik yang berkali-kali tertunda.

Mitsubishi New Xforce HEV, yang resmi diluncurkan pada 29 Juli 2026 di GIIAS, sering dibaca sebagai kabar sederhana — Mitsubishi akhirnya punya hybrid. Padahal yang sesungguhnya terjadi di sasis itu adalah pertemuan dua aliran teknologi yang selama tiga dekade mengalir di sungai yang berbeda.

Yang satu lahir dari kebutuhan menaklukkan medan: bagaimana membuat mobil tetap patuh ketika permukaan jalan berhenti bisa diandalkan. Yang lain lahir dari kebutuhan melepaskan diri: bagaimana membuat kendaraan listrik yang tidak menyandera pemiliknya pada sebuah stopkontak.

Selama ini keduanya tidak pernah benar-benar bertemu di satu mobil yang bisa dibeli orang kebanyakan.

“Kehadiran Mitsubishi New Xforce menjadi salah satu wujud komitmen tersebut, sekaligus menandai evolusi lini produk Mitsubishi Motors di Indonesia,” ujar Atsushi Kurita, President Director PT MMKSI.

Sungai Pertama: Yang Mengalir dari Lintasan Reli

Tahun 1996, Lancer Evolution IV keluar pabrik membawa sesuatu yang belum pernah ada di mobil produksi mana pun: Active Yaw Control.

Dikembangkan insinyur Kaoru Sawase, AYC adalah komponen pertama sejenisnya di dunia — mampu memindahkan torsi secara menyamping antara roda belakang kiri dan kanan. Sebelumnya, torsi hanya bisa dioper antara poros depan dan belakang. Perbedaannya seperti seseorang yang selama ini hanya bisa maju-mundur, lalu tiba-tiba belajar bergeser ke samping.

Yang paling menarik justru bukan kecanggihannya, melainkan kesederhanaannya bagi pengemudi. AYC bekerja sepenuhnya elektronik, tanpa perlu satu pun input manusia. Lancer Evolution tidak menjadi lebih sulit dikendarai daripada sedan biasa — ia hanya menjadi jauh lebih mampu. Di tangan Tommi Mäkinen, mobil itu mendominasi World Rally Championship sepanjang paruh kedua 1990-an.

Filosofi itulah yang kemudian dirawat Mitsubishi selama puluhan tahun: kendali empat roda diasah di medan paling brutal, lalu diturunkan pelan-pelan ke mobil yang dipakai orang biasa. Dari Lancer Evolution, AYC mengalir ke Xpander, Xpander Cross, dan akhirnya Xforce.

Perlu dicatat, warisan ini bukan salinan persis. Di Lancer Evolution, AYC bekerja lewat differential belakang aktif; di Xforce, prinsip yang sama diterjemahkan ulang melalui pengereman roda tertentu yang bekerja bersama ABS dan ASC. Perangkatnya berbeda, gagasannya identik — menjaga mobil tetap patuh pada arah yang diinginkan pengemudi.

Jejak reli itu masih terlihat jelas di daftar fitur Xforce HEV hari ini. Tujuh mode berkendara tersedia: Normal, Wet, Gravel, Mud, Tarmac, EV Priority, dan Charge. Dua nama di tengah — Gravel dan Mud — adalah kata-kata yang tidak lazim ditemukan di brosur SUV hybrid kompak mana pun. Keduanya tidak lahir dari riset pasar tentang gaya hidup urban. Keduanya lahir dari lintasan.

Dan di Indonesia, dua kata itu bukan sekadar nostalgia. Jalan yang berubah jadi kubangan setelah hujan sore, jalur berbatu menuju kampung halaman, bahu jalan berpasir di pesisir — semuanya adalah medan yang secara statistik jauh lebih sering ditemui pengendara di sini daripada sirkuit mana pun. SUV yang hanya dirancang untuk aspal mulus seolah lupa bahwa jalanan Indonesia punya cerita yang jauh lebih beragam.

Sungai Kedua: Yang Mengalir dari Pengalaman Paling Fenomenal

Tim yang mengembangkan SUV listrik Mitsubishi adalah tim yang sebelumnya melahirkan i-MiEV, mobil listrik produksi massal pertama. Proyek berikutnya sempat tertunda berkali-kali. Mereka tidak berhenti. Hasilnya keluar pada 2013: Outlander PHEV, SUV plug-in hybrid pertama di dunia — sebuah kategori yang sebelumnya tidak ada.

Mobil itu terjual 200 ribu unit secara global dan menjadi plug-in hybrid terlaris di Eropa sepanjang 2015–2018.

Dari sanalah sistem hybrid Xforce HEV berasal. Mitsubishi menyatakan teknologinya dikembangkan berdasarkan pengalaman perusahaan membangun kendaraan elektrifikasi, termasuk teknologi PHEV yang lebih dulu dipakai di Outlander.

Warisannya paling kentara pada Charge Mode — fitur yang Mitsubishi sebut sebagai pembeda utama Xforce HEV dari hybrid lain. Mesin bensin menyala khusus untuk mengisi baterai selama kendaraan berjalan, sehingga daya listrik tetap terjaga tanpa sumber pengisian dari luar. Logika itu bukan hal baru; ia sudah hidup di Outlander PHEV bertahun-tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan sistemnya bekerja dalam empat mode penggerak yang berpindah sendiri. Saat merayap di perumahan, macet, atau parkir, roda digerakkan sepenuhnya motor listrik — mesin diam, kabin senyap, konsumsi bahan bakar nol. Ketika baterai perlu diisi, mesin menyala tetapi tidak memutar roda; ia hanya menjadi generator. Di kecepatan tinggi yang stabil serta saat menghadapi tanjakan dan turunan, mesin baru terhubung langsung ke roda. Komputer memantau kecepatan, posisi pedal gas, kondisi baterai, beban, dan situasi jalan, lalu memilih mode paling efisien dalam hitungan milidetik.

Persis seperti AYC tiga dekade lalu: teknologi rumit yang menolak merepotkan penggunanya.

Spesifikasinya mendukung karakter itu. Xforce HEV memadukan mesin bensin 1,6 liter DOHC MIVEC dengan motor listrik bertenaga 116 PS dan torsi instan 255 Nm, disalurkan lewat transmisi hybrid e-CVT tanpa hentakan perpindahan gigi. Baterai lithium-ion 1,1 kWh mengisi otomatis saat deselerasi maupun ketika mesin bekerja. Dibanding sistem hybrid Xpander HEV di Thailand, versi Xforce mendapat transaxle baru berefisiensi lebih tinggi serta fungsi motor disconnect yang memutus motor listrik dari poros penggerak di kecepatan tinggi untuk menekan kehilangan energi.

Hasil akhirnya terbaca pada jarak tempuh. Mitsubishi mengklaim New Xforce HEV sanggup menempuh lebih dari 1.000 km sekali isi penuh — diuji langsung oleh pereli nasional Rifat Sungkar. Angka itu masuk akal secara hitungan: spesifikasi global mencatat konsumsi sekitar 24,4 km per liter, yang dengan tangki 42 liter setara jarak tempuh sekira 1.025 km.

Bagi pengendara yang menempuh 50 km sehari, satu tangki berarti hampir tiga minggu tanpa mampir ke SPBU.

Hitungan kasarnya begini. Dengan 50 km per hari selama 25 hari kerja, seseorang menempuh 1.250 km sebulan. Pada konsumsi 24,4 km/liter, ia butuh sekitar 51 liter; pada 12 km/liter — angka yang lebih lazim untuk SUV bensin di kemacetan kota — kebutuhannya melonjak ke sekitar 104 liter. Selisih 53 liter tiap bulan, dengan asumsi bensin Rp13.000 per liter, setara sekitar Rp690 ribu. Setahun: kira-kira Rp8,3 juta.

Selisih itulah yang sebenarnya dijual. Sebab, efisiensi paling mudah dirasakan bukan di atas kertas, melainkan dari uang yang tak lagi harus keluar dari kantong.

Muara: Mitsubishi New Xforce HEV di GIIAS 2026

Dua sungai itu bertemu di sebuah SUV kompak seharga Rp445 juta on the road Jakarta — harga spesial peluncuran yang semula hanya berlaku 16–28 Juli, lalu diperpanjang sepanjang GIIAS 2026 hingga 9 Agustus. Varian bensinnya tetap ditawarkan: Exceed Rp388 juta dan Ultimate Rp399 juta. 

Yang membedakannya bukan harga, melainkan isi lemari warisannya.

Ketakutan terbesar pembeli hybrid pertama jarang soal harga awal. Yang menghantui adalah tagihan penggantian baterai bertahun-tahun kemudian — angka yang tak pernah muncul di brosur, tetapi selalu muncul di kolom komentar. MMKSI menjawabnya dengan garansi baterai hingga 10 tahun atau 200.000 kilometer, ditambah pemeriksaan kesehatan baterai gratis selama lima tahun. 

Ada satu lapisan lagi. New Xforce HEV dirakit secara lokal oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia — hybrid pertama Mitsubishi yang diproduksi di Indonesia, sekaligus menjadikan pabrik tersebut basis produksi untuk kawasan ASEAN. Artinya rantai suku cadang lebih dekat dan teknisi dilatih di dalam negeri.

Di booth Mitsubishi, pengunjung bisa melihat 16 unit kendaraan dan mencoba enam unit test drive sepanjang pameran.

Xforce HEV berdiri di antaranya tanpa embel-embel visual yang berteriak "ini mobil masa depan". Tetapi bagi yang tahu ceritanya, mobil itu sedang membawa dua hal sekaligus: kemampuan membaca medan yang lahir di lintasan reli, dan kemampuan mengelola listrik yang lahir dari SUV plug-in hybrid pertama di dunia.

Selama ini keduanya hidup terpisah — satu di mobil balap yang hanya bisa dikagumi dari jauh, satu lagi di kendaraan premium yang menuntut infrastruktur pengisian daya. Baru sekarang keduanya bermuara di satu sasis yang bisa dibeli untuk mengantar anak sekolah.

Dan itu, barangkali, definisi paling jujur dari kemajuan: bukan teknologi yang paling mengagumkan, melainkan teknologi yang akhirnya sampai ke garasi orang banyak.