Liputan6.com, Jakarta - Di jalan raya, roda berputar tanpa banyak mengundang perhatian. Bentuknya tampak sederhana, seolah lingkaran memang satu-satunya pilihan yang masuk akal untuk menggerakkan kendaraan. Namun, di balik bentuk yang akrab itu, ada prinsip geometri yang menentukan kenyamanan perjalanan: jarak antara sumbu roda dan permukaan tanah harus tetap sama ketika roda menggelinding.
Pada roda bulat, jarak tersebut selalu sama dengan jari-jarinya. Sebaliknya, roda persegi membuat sumbunya naik dan turun setiap kali sudut dan sisi roda bergantian menyentuh tanah. Pada jalan datar, pergerakan sumbu roda persegi bisa mencapai 29,3 persen dari jari-jarinya. Perubahan ketinggian inilah yang akan terasa sebagai guncangan bagi penumpang.
Prinsip itu membantu menjelaskan mengapa bentuk dasar roda bertahan begitu lama. Dari roda kayu yang ditemukan di rawa Ljubljana, Slovenia, dan diperkirakan berasal dari 3340 hingga 3030 SM, hingga ban kendaraan modern, lingkaran tetap menjadi pilihan utama.
Advertisement
Namun, ada satu hal menarik: roda persegi ternyata bisa menggelinding dengan mulus. Menurut laman Macalester College, dikutip Selasa (20/10/2026), profesor matematika Stan Wagon bersama mekanik sepeda Loren Kellen membuat sepeda beroda persegi pada 1997. Sepeda itu dapat melaju mulus, tetapi hanya di atas jalan berbentuk katenari terbalik.
Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa kelancaran gerak bukan semata-mata ditentukan oleh bentuk roda. Bentuk permukaan yang dilalui juga memegang peranan penting.
Lantas, mengapa kendaraan sehari-hari tetap menggunakan roda bulat? Apa kaitannya dengan efisiensi energi, sejarah teknologi, dan kondisi ban yang mulai berubah bentuk? Jawabannya berawal dari hubungan sederhana antara roda dan tanah, lalu merentang hingga persoalan keselamatan berkendara.
Sumbu Roda Bulat Selalu Berada di Ketinggian yang Sama
Bayangkan sebuah roda menggelinding di atas jalan datar. Pada roda bulat, jarak dari pusat roda ke tanah selalu sama dengan jari-jarinya. Selama permukaan jalan tetap datar, sumbu roda tidak perlu bergerak naik atau turun hanya karena roda berputar.
Keadaan berbeda terjadi pada roda berbentuk segi banyak beraturan. Ketika salah satu sudutnya menopang beban, sumbu berada pada ketinggian yang berbeda dibandingkan saat sisi datarnya menyentuh tanah. Pergantian titik tumpu itulah yang membuat kendaraan bergerak naik dan turun secara berulang.
Semakin banyak sisi yang dimiliki roda, semakin kecil perubahan ketinggian tersebut. Bentuknya pun semakin mendekati lingkaran. Meski demikian, selama masih berupa segi banyak, perubahan ketinggian sumbu belum benar-benar hilang.
Berikut perbandingan perubahan ketinggian sumbu pada beberapa bentuk roda dengan jari-jari 30 cm.
| BENTUK RODA | JUMLAH SISI | TINGGI SUMBU TERENDAH | SUMBU NAIK TURUN | CONTOH JARI-JARI 30 CM |
|---|---|---|---|---|
| Segitiga sama sisi | 3 | 50,0 persen | 50,0 persen | 15,0 cm |
| Persegi | 4 | 70,7 persen | 29,3 persen | 8,8 cm |
| Segi enam | 6 | 86,6 persen | 13,4 persen | 4,0 cm |
| Segi delapan | 8 | 92,4 persen | 7,6 persen | 2,3 cm |
| Segi dua belas | 12 | 96,6 persen | 3,4 persen | 1,0 cm |
| Segi dua puluh empat | 24 | 99,1 persen | 0,9 persen | 0,3 cm |
| Lingkaran (ban) | Tak terbatas | 100,0 persen | 0,0 persen | 0,0 cm |
Angka-angka tersebut dihitung menggunakan rumus geometri, dengan jari-jari sebagai jarak dari pusat roda ke sudutnya. Tinggi sumbu terendah diperoleh dari nilai cosinus 180 derajat dibagi jumlah sisi. Sementara itu, besarnya perubahan ketinggian sumbu merupakan satu dikurangi nilai tersebut.
Pada roda persegi dengan jari-jari 30 cm, misalnya, sumbu naik turun sekitar 8,8 cm setiap seperempat putaran. Perubahan itu terjadi berulang kali selama roda bergerak di jalan datar.
Bandingkan dengan roda bulat, yang tidak mengalami perubahan ketinggian sumbu akibat putaran roda itu sendiri. Di sinilah lingkaran menunjukkan keunggulannya: bentuk yang sederhana mampu menjaga gerak tetap stabil tanpa memerlukan permukaan jalan khusus.
Advertisement
Roda Persegi Bisa Melaju Mulus, tetapi di Jalan Khusus
Jika roda persegi membuat sumbu naik turun di jalan datar, apakah bentuk itu sama sekali tidak bisa digunakan untuk berkendara dengan mulus?
Eksperimen matematika menunjukkan sebaliknya. Menurut laman Macalester College, G. B. Robison menyadari pada 1960 bahwa roda persegi dapat menggelinding di atas jalan berbentuk katenari. Konsep tersebut kemudian dibahas dalam makalah L. Hall dan S. Wagon berjudul Roads and Wheels, yang terbit di Math Magazine pada 1992 dan dirujuk oleh laman Harvey Mudd College.
Katenari adalah lengkungan yang terbentuk ketika tali atau rantai menggantung di antara dua titik. Untuk roda persegi, bentuk lengkungan tersebut dipasang terbalik, menyerupai deretan gundukan yang dirancang mengikuti gerak roda.
Dengan permukaan jalan yang tepat, sumbu roda dapat dipertahankan pada ketinggian yang sama meskipun bentuk rodanya bukan lingkaran. Artinya, jalan dan roda harus dirancang sebagai pasangan, bukan sebagai dua komponen yang berdiri sendiri.
| RODA | SUMBU NAIK TURUN PER PUTARAN DI JALAN DATAR | JALAN AGAR SUMBU TETAP RATA |
|---|---|---|
| Lingkaran | 0 kali | Jalan datar |
| Persegi | 4 kali (hitungan geometri) | Deretan gundukan katenari terbalik |
| Segi banyak beraturan selain segitiga | Sebanyak jumlah sisinya (hitungan geometri) | Katenari terbalik dengan parameter yang menyesuaikan bentuk dan ukuran roda |
| Segitiga sama sisi | 3 kali (hitungan geometri) | Tidak bisa dengan jalan katenari |
| Segitiga Reuleaux | 3 kali | Dinilai tidak cocok sebagai roda karena tidak berputar pada pusat yang tetap |
Dalam praktiknya, jalan katenari bukan solusi yang praktis untuk kendaraan umum. Setiap bentuk roda membutuhkan profil jalan yang sesuai. Jalan yang dirancang untuk satu jenis roda belum tentu dapat memberikan gerakan serupa bagi bentuk roda lainnya.
Jalan datar justru menawarkan kesederhanaan yang sulit ditandingi. Di atas permukaan tersebut, lingkaran menjadi bentuk yang menjaga sumbu tetap pada ketinggian yang sama selama roda menggelinding.
Ada pula segitiga Reuleaux, bentuk yang memiliki lebar konstan seperti lingkaran. Benda yang diletakkan di atas rol berbentuk ini dapat bergerak rata, tetapi sumbu yang dipasang pada segitiga Reuleaux tetap naik turun tiga kali dalam setiap putaran. Karena itu, bentuk tersebut dinilai tidak cocok sebagai roda yang berputar pada pusat tetap.
Eksperimen roda persegi bukan berarti lingkaran kehilangan keunggulannya. Sebaliknya, eksperimen itu memperjelas mengapa roda bulat begitu sesuai untuk jalan datar: geraknya stabil tanpa menuntut rekayasa khusus pada permukaan yang dilalui.
Hambatan Guling: Ketika Bentuk Roda Berpengaruh pada Energi
Gerak yang mulus bukan satu-satunya pertimbangan dalam desain roda. Kendaraan juga membutuhkan energi untuk terus bergerak, sementara sebagian energi tersebut hilang akibat hambatan yang muncul saat roda menggelinding.
Pada ban angin, salah satu penyebab utama hambatan guling adalah histeresis. Karet ban terus berubah bentuk ketika menyentuh permukaan jalan, lalu kembali ke bentuk semula setelah melewatinya. Dalam proses tersebut, sebagian energi berubah menjadi panas dan tidak kembali menjadi energi gerak.
Besarnya hambatan guling dinyatakan melalui koefisien hambatan guling atau rolling resistance coefficient (Crr). Nilai ini merupakan perbandingan antara gaya hambatan dan beban yang menekan roda. Semakin besar koefisiennya, semakin besar pula gaya yang harus dilawan kendaraan untuk mempertahankan gerak.
Berikut perbandingan koefisien hambatan guling pada beberapa jenis roda dan permukaan. Besaran gaya pada kolom terakhir dihitung dari nilai Crr dengan percepatan gravitasi 9,81 m/s² untuk setiap 1.000 kg beban.
| KASUS | CRR | GAYA HAMBATAN PER 1.000 KG BEBAN |
|---|---|---|
| Roda kereta baja di rel baja | 0,0010 sampai 0,0024 | 10 sampai 24 N |
| Ban sepeda produksi, 120 psi | 0,0022 sampai 0,0050 | 22 sampai 49 N |
| Ban truk besar | 0,0045 sampai 0,0080 | 44 sampai 78 N |
| Ban mobil biasa di beton | 0,0100 sampai 0,0150 | 98 sampai 147 N |
| Kereta kuda abad ke-19 di jalan tanah | 0,0385 sampai 0,0730 | 378 sampai 716 N |
| Ban mobil biasa di pasir | 0,3000 | 2.943 N |
Perbedaan permukaan jalan dapat mengubah besarnya hambatan secara signifikan. Ban mobil biasa di beton memiliki Crr sebesar 0,0100 hingga 0,0150, sedangkan di pasir nilainya mencapai 0,3000. Artinya, hambatan guling pada pasir bisa sekitar 20 hingga 30 kali lebih besar.
Sebaliknya, roda baja yang menggelinding di atas rel baja memiliki hambatan paling kecil di antara kasus yang tercantum dalam tabel. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa efisiensi gerak tidak hanya ditentukan oleh bentuk roda, tetapi juga oleh bahan roda dan karakter permukaan yang bersentuhan dengannya.
Pada kendaraan sehari-hari, tekanan angin ban juga tidak boleh diabaikan. Menurut National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), lembaga keselamatan lalu lintas Amerika Serikat, ban dengan tekanan yang tepat dapat memperpanjang umur rata-rata ban hingga 4.700 mil, atau sekitar 7.600 km.
Dengan demikian, menjaga ban dalam kondisi baik bukan sekadar urusan kenyamanan. Kondisi ban turut menentukan seberapa efisien energi digunakan selama perjalanan.
Advertisement
Sejarah Roda: dari Gelondongan Kayu hingga Ban Modern
Jauh sebelum kendaraan bermotor melintas di jalan, manusia telah mencari cara untuk memindahkan beban dengan tenaga yang lebih sedikit. Salah satu gagasan awal yang mungkin digunakan adalah gelondongan kayu yang ditempatkan di bawah benda berat agar dapat berfungsi sebagai rol.
Menurut Encyclopaedia Britannica, gagasan roda untuk transportasi mungkin berawal dari penggunaan batang kayu gelondongan semacam itu. Namun, jejak sejarah roda tidak menunjuk pada satu tempat atau satu tanggal yang dapat dipastikan sebagai titik awalnya.
Bukti arkeologi dan gambar kendaraan beroda ditemukan di beberapa wilayah, dengan rentang waktu yang saling tumpang tindih. Sejumlah temuan penting di antaranya adalah sebagai berikut.
| BUKTI | PERKIRAAN WAKTU | LOKASI |
|---|---|---|
| Gambar kendaraan beroda pada guci Bronocice | 3631 sampai 3380 SM | Polandia selatan |
| Gambar gerobak beroda di Uruk (piktograf Sumeria) | Sekitar 3500 sampai 3350 SM | Mesopotamia |
| Roda kayu dan poros Ljubljana Marshes | 3340 sampai 3030 SM (roda dan poros) | Slovenia |
| Roda berjari-jari untuk kereta perang | Sekitar 2000 SM | Asia Kecil (Anatolia) |
Di antara bukti fisik yang dikenal, roda kayu dari Ljubljana Marshes beserta porosnya menjadi salah satu temuan tertua. Penanggalannya dilaporkan oleh Velušček, Čufar, dan Zupančič pada 2009.
Seiring waktu, roda berjari-jari muncul untuk digunakan pada kereta perang sekitar 2000 SM di Asia Kecil atau Anatolia. Bentuk dan konstruksinya berkembang, tetapi prinsip dasar lingkaran tetap dipertahankan.
Dari gelondongan kayu hingga ban modern, sejarah roda memperlihatkan bagaimana manusia menyempurnakan cara bergerak. Teknologi dan bahan boleh berubah, tetapi kebutuhan mendasarnya tetap sama: membawa beban dengan gerakan yang efisien dan terkendali.
Apa yang Terjadi jika Ban Tidak Lagi Bulat Sempurna?
Roda bulat ideal menjaga sumbu tetap stabil ketika menggelinding di jalan datar. Namun, ban kendaraan yang digunakan sehari-hari tidak selalu mempertahankan bentuk sempurnanya.
Benjolan, keausan yang tidak merata, atau ketidakseimbangan roda dapat mengganggu putaran. Pengemudi mungkin merasakannya sebagai getaran pada setir atau bodi kendaraan. Jika kondisi tersebut dibiarkan, keausan ban juga dapat semakin tidak merata.
Untuk membantu menjaga keselamatan, NHTSA mencantumkan sejumlah patokan pemeriksaan ban. Konversi ke kilometer dan milimeter pada tabel berikut dihitung sendiri.
| PEMERIKSAAN | PATOKAN NHTSA |
|---|---|
| Tekanan angin | Periksa semua ban, termasuk ban cadangan, minimal sebulan sekali saat ban dingin (kendaraan tidak dipakai minimal 3 jam) |
| Kedalaman alur | Ganti ban saat alur aus hingga 2/32 inci (sekitar 1,6 mm) |
| Usia ban | Sebagian produsen menyarankan ganti pada usia 6 sampai 10 tahun, terlepas dari kondisi alur |
| Kerusakan fisik | Retak, sobek, benjolan, atau keausan tidak merata: hentikan pemakaian |
| Rotasi ban | Bila dianjurkan pabrikan, tiap 5.000 sampai 8.000 mil (sekitar 8.000 sampai 12.900 km) |
| Balancing | Ban baru sebaiknya di-balance saat dipasang agar roda berputar tanpa getaran |
Patokan tersebut menunjukkan bahwa perawatan ban tidak berhenti pada pemeriksaan tekanan angin. Kondisi fisik, kedalaman alur, usia, dan keseimbangan roda sama-sama perlu diperhatikan.
Ban yang mengalami benjolan atau kerusakan fisik tidak boleh dianggap sekadar masalah penampilan. Kondisi tersebut dapat menandakan kerusakan yang memengaruhi bentuk dan kinerja ban. Karena itu, NHTSA menganjurkan penghentian pemakaian jika ditemukan kerusakan seperti retak, sobek, benjolan, atau keausan tidak merata.
Tips Menjaga Ban Tetap Bulat dan Awet
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi ban dan membantu mempertahankan kinerjanya.
- Ukur tekanan angin minimal sebulan sekali saat ban dingin. Gunakan angka yang tertera pada label pintu pengemudi atau buku manual kendaraan, bukan angka pada dinding ban.
- Periksa dinding ban untuk menemukan benjolan, retak, atau sobekan. Ban yang benjol sudah tidak bulat sempurna dan sebaiknya tidak digunakan lagi.
- Saat memasang ban baru, minta teknisi melakukan balancing. Getaran pada setir di kecepatan tertentu sering kali menjadi tanda roda tidak seimbang.
- Lakukan rotasi ban sesuai anjuran pabrikan, sekitar setiap 8.000 hingga 12.900 km, agar keausannya lebih merata.
- Periksa usia ban melalui empat digit terakhir kode DOT pada dinding ban. Sebagai contoh, kode 0308 berarti ban diproduksi pada minggu ketiga tahun 2008.
- Gunakan ukuran ban yang sama dengan ban asli atau ukuran yang direkomendasikan pabrikan kendaraan.
Meski terlihat sederhana, pemeriksaan berkala membantu pengemudi mengenali perubahan kondisi ban sebelum masalah berkembang lebih jauh. Tekanan yang tepat, bentuk yang utuh, dan putaran yang seimbang menjadi bagian penting dari perjalanan yang lebih aman.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Bentuk Ban Kendaraan
- Mengapa ban kendaraan harus bulat?
Karena hanya lingkaran yang menjaga jarak sumbu ke tanah tetap sama ketika menggelinding di jalan datar. Pada roda persegi, sumbu naik turun sekitar 29,3 persen dari jari-jarinya, sehingga menimbulkan guncangan.
- Apakah roda persegi bisa berjalan mulus?
Bisa, tetapi hanya di atas jalan berbentuk katenari terbalik. Sepeda roda persegi yang dibuat Stan Wagon dan Loren Kellen pada 1997 di Macalester College dapat melaju mulus di atas permukaan khusus tersebut. Versi awalnya diganti pada April 2004 dengan bahan yang lebih kokoh.
- Apakah segitiga Reuleaux bisa menjadi roda?
Bentuk ini dinilai tidak cocok sebagai roda yang berputar pada pusat tetap. Meskipun memiliki lebar konstan seperti lingkaran, sumbunya tetap naik turun tiga kali dalam setiap putaran.
- Kapan roda pertama kali digunakan pada kendaraan?
Bukti berupa gambar kendaraan beroda pada guci Bronocice di Polandia selatan diperkirakan berasal dari 3631 hingga 3380 SM. Gambar gerobak beroda di Uruk, Mesopotamia, diperkirakan berasal dari sekitar 3500 hingga 3350 SM. Sementara itu, roda kayu Ljubljana bertanggal 3340 hingga 3030 SM.
- Mengapa ban bulat lebih hemat tenaga?
Hambatan gulingnya relatif kecil. Ban mobil biasa di beton memiliki koefisien hambatan guling 0,0100 hingga 0,0150. Pada beban 1.000 kg, nilai tersebut setara dengan gaya hambatan sekitar 98 hingga 147 N, jauh di bawah hambatan kereta kuda di jalan tanah yang mencapai 378 hingga 716 N.
- Apa tanda ban sudah tidak bulat atau mengalami masalah?
Tanda yang disebut NHTSA meliputi benjolan, retak, sobekan, keausan tidak merata, serta getaran atau suara yang tidak biasa. Ban juga perlu diganti ketika kedalaman alurnya aus hingga 2/32 inci, atau sekitar 1,6 mm.
Patokan perawatan tersebut bersumber dari lembaga Amerika Serikat. Pengemudi tetap perlu mengikuti anjuran pabrikan kendaraan dan bengkel resmi terkait tekanan angin, pemeriksaan kondisi ban, serta jadwal rotasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377480/original/078319600_1792466079-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377552/original/028248000_1792469170-Ilustrasi_mobil_dengan_ban_kotak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4833331/original/012370200_1715830757-nazim-zafri-4dNGik9Itfg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344870/original/048081900_1789010328-IMG-20260910-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8760726/original/011109600_1782828592-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329901/original/036024300_1787301706-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322382/original/044622800_1786526115-20260812_160728.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319245/original/009817500_1786206709-Yangwang_U9_Xtreme_dengan_ban_Giti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313341/original/085260300_1785635627-20260802_084624.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313245/original/003565500_1785597940-ChatGPT_Image_Aug_1__2026__10_24_28_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299595/original/000789700_1784267105-20260717_124047.jpg)