9 Generasi Unggulan Motor Suzuki

Di antara tekanan provider para pesaingnya, tak ada salahnya kembali melihat bagaimana generasi unggulan motor Suzuki ini.

oleh Redaksi OtosiaDiterbitkan 26 Mei 2015, 10:30 WIB
Motor Suzuki (Foto: istimewa)

Otosia.com Suzuki selaku salah satu produsen motor unggulan di Indonesia sudah ada sejak periode tahun 1973. Pada awalnya Suzuki merupakan satu-satunya kompetitor bagi Yamaha dan Honda yang sudah ada sejak sebelum Suzuki.

Foto dok. Liputan6.com

Suzuki di beberapa sisi terlihat sangat fokus untuk melakukan pengembangan pada segi inovasi performa. Itulah mengapa, sejak dahulu Suzuki memiliki kelebihan secara performa, kecepatan dan keunggulan dari sisi historis.

Foto dok. Liputan6.com

Berikut adalah 9 generasi terbaik yang pernah ditelurkan oleh Suzuki. Beberapa di antaranya malah masih eksis hingga sekarang. Yuk disimak Otolovers!

 (kpl/fjr)

A dan GT

 

Generasi GT Series dari Suzuki eksis semenjak awal berdirinya dealer Suzuki di Indonesia. Sekalipun GT Series masih harus dihadirkan langsung dari pabrikannya di Jepang dan baru bisa dirakit di Indonesia.

Foto dok. Liputan6.com

Bisa dikatakan GT Series merupakan penerus dari A Series yang sejak tahun 1973 sudah menancapkan kukunya di ranah negeri Ini. Dengan berbekal mesin dua tak, motor-motor "Jantan" tersebut berada dalam naungan Indohero Steel & Engineering Co.

Foto dok. Liputan6.com

Motor unggulan seri A adalah A100. Sementara dari seri GT antara lain ada GT100, GT125 dan salah satu yang paling diunggulkan adalah GT185 karena sudah menggunakan satu rem cakram di bagian depan, sayangnya harus disuntik mati pada 1977.

Foto dok. Liputan6.com

RC Series

 

RC Series bisa dikatakan merupakan salah satu pelopor motor khusus keluarga pertama yang pernah eksis di Indonesia. Motor ini menggunakan model cub, atau istilahnya bebek. Sehingga motor ini juga bisa dipergunakan oleh wanita.

Foto dok. Liputan6.com

Sekalipun demikian, motor RC Series yang dikeluarkan pada 1982 juga jadi kegemaran para pria. Hanya saja, kurang enak rasanya dipandang karena pada saat itu, motor tersebut masih menggunakan aksesoris keranjang di bagian depan.

Foto dok. Liputan6.com

RC merupakan penyempurnaan dari seri FR yang sebelumnya kurang gaung dan tidak terlalu bersuara. Antara lain produknya adalah RC100 Bravo, RC110 Crystal Tune, dan Crystal Tune 110 yang merupakan salah satu tonggak model modern motor cub.

Foto dok. Liputan6.com

Dan RC series, merupakan tonggak tegak untuk berdirinya model berikut yang juga fenomenal. Siapa yang disini tidak kenal merk Suzuki Tornado?

RGR

 

Bukan Yamaha, Honda atau Kawasaki yang pada periode tahun 1980-an menjadi rajanya motor sport. Tapi seri RGR lah yang punya performa paling disegani oleh para pria penyuka motor sport fairing.

Foto dok. Liputan6.com

Untuk ukuran tahun 1980-an RGR bisa dibilang jadi salah satu yang paling mutakhir. Baik secara teknologi maupun secara model. Dan akhirnya model RGR ini kemudian berakhir pada tahun 1996 karena Kawasaki mulai menyainginya dengan teknologi motor sport ber-watercooler.

Foto dok. Liputan6.com

RGR yang saat itu dimulai pada seri 150 yang juga merepresentasikan ukuran mesinnya, tidak memberi gubahan signifikan memang, tapi cukup untuk bertahan sampai dengan satu dekade lebih.

Thunder

 

Kembali, setelah model RGR jadi bahan pembicaraan masyarakat dan bikin pusing Yamaha serta Honda, kali ini Thunder ikut-ikutan jadi biang kerok "puyeng-nya" kedua pabrikan raksasa tersebut pada 1999.

Foto dok. Liputan6.com

Motor tersebut pertama kali masuk dengan nama produksi GSX250, dengan cc mesin 250cc. Thunder 250 saat itu sedikit terlalu besar untuk masyarakat Indonesia, mengingat kapasitas konsumsi BBM yang belum cukup memadai kualitasnya untuk mesin 250cc.

Sayangnya eksistensi Thunder 250 saat itu tidak dibarengi dengan kualitas mumpuni generasi penerusnya. Lantaran Thunder 125 yang muncul tahun 2000-an justru melempem dan mengalami downgrade besar-besaran di sana-sini.

Shogun

 

Suzuki Shogun yang dulunya disebut Suzuki Kebo masuk pertama kali pada tahun 1995. Dengan kelas awal 110cc. Saat itu, motor ini juga menjadi saingan berat bagi Honda. Lantaran saat itu Honda masih "hanya" mengandalkan kelas Supra.

Foto dok. Liputan6.com

Persaingan terus memanas bahkan sampai dengan periode tahun 2004 dimana Honda Karisma sempat juga menggoyang pasar Shogun di kelas yang sama 125cc. Saat itu, Suzuki Shogun memberikan opsi yang keren dan sporty pada seri SP, serta motor pertama yang menggunakan safety lock pada kontak.

Foto dok. Liputan6.com

Shogun sendiri akhirnya terus bertahan sekalipun dengan kondisi yang terseok-seok, lantaran tidak terlalu ada produksi dan inovasi signifikan. Akhirnya, generasi Axelo lahir, yang juga kurang "dimaintain" dengan baik oleh Suzuki.

Arashi

 

Sempat menjadi bahan sentimen negatif para penikmat motor bebek di Indonesia, karena Suzuki Arashi, yang bila diterjemahkan dari bahasa Jepang yang berarti "Angin", nyaris jadi angin lalu karena desainnya.

Foto dok. Liputan6.com

Karena motor cub yang satu ini, bisa dibilang salah satu yang pertama menggunakan lampu di bagian "dada" motornya. Untungnya trend ini ternyata justru diikuti beberapa vendor lainnya. Salah satu yang paling sukses adalah pada Yamaha Mio.

Foto dok. Liputan6.com

Sebetulnya Arashi yang lahir nyaris bersamaan dengan Suzuki Shogun ini tidak buruk-buruk amat. Desain lampu yang mengadaptasi GSX650 serta power yang lebih besar dari Shogun, jadi pembeda yang sangat signifikan.

Smash

 

Sebelum Suzuki Shogun naik kelas jadi 125cc, pada tahun 2000-an Suzuki sudah merencanakan untuk memberikan penerus bagi Shogun, yang untungnya dalam hal ini mampu menjadi penantang berat di kelas 110cc.

Foto dok. Liputan6.com

Adalah Suzuki Smash, yang saat itu kembali jadi fenomena karena mampu menyaingi motor Yamaha dengan Vega-nya saat itu. Smash sendiri jadi merk yang paling diminati periode tahun 2000-an karena modelnya yang sporty dan keren.

Foto dok. Liputan6.com

Pada tahun 2006, Smash mengalami pembaharuan yang sayangnya menurut banyak orang malah lebih terlihat "downgrade". Lantaran tidak ada perubahan performa yang signifikan, tapi justru malah modelnya yang jadi lebih disederhanakan daripada seri sebelumnya.

Foto dok. Liputan6.com

Lebih lanjut lagi, kegagalan juga makin menggelayuti diri Suzuki, karena penerusnya yakni Suzuki Titan, juga tidak meraih pasar yang cukup baik. Belum lagi pada tahun 2010 juga diluncurkan motor yang juga agak rendah pasarnya pada diri Shooter 115cc.

Spin

 

Di tahun-tahun terciptanya Suzuki Spin, para penggemar Suzuki harus jujur pada diri mereka sendiri, karena di waktu itulah Suzuki terlihat latah dan mengikuti trend yang didirikan oleh Yamaha Nouvo, sebagai pelopor motor matic.

Foto dok. Liputan6.com

Keunggulan dari Suzuki Spin adalah cc-nya yang lebih besar serta performa yang jauh lebih baik, namun bisa sama iritnya dengan motor yang lebih kecil cc-nya. Suzuki Spin merupakan tonggak berdirinya model yang lebih anyar pada diri Skydrive dan Skywave.

Foto dok. Liputan6.com

Edisi Sky punya kehematan yang cukup signifikan. Bisa dikatakan matic milik Suzuki punya rasio konsumsi yang terbaik untuk penggunaan sehari hari dengan "Dynamatic"-nya.

Foto dok. Liputan6.com

Satria

 

Sensasi muncul pada seri Satria yang eksplosif. Bagaimana tidak, pada tahun 1997, motor ini merupakan motor pertama dengan mesin tegak, menggunakan 5 percepatan. Wajar rasanya tahun 1997 Honda dan Yamaha nyaris ampun-ampunan menandingi Satria S.

Foto dok. Liputan6.com

Terus berlanjut pada Suzuki Satria R yang pertama kali menggunakan Double Disc Brake. Rajanya jalanan ini juga fenomenal karena velg racing dan model sporty ala motor di jalanan sirkuitnya.

Foto dok. Liputan6.com

Tahun 2000-an pembaharuan dilakukan untuk meraih model baru, lagi lagi sang fenomena, Suzuki Satria F150, yang di negeri seberang disebut Raider. Welcome, bebek sport pertama di Indonesia, yang kemudian jadi alasan mengapa Honda merilis model Sonic.

Foto dok. Liputan6.com

Tahun demi tahun, bebek sport Suzuki ini tidak bisa ditandingi, setidaknya sampai model Jupiter MX150cc keluar. Lantaran Kawasaki Athlete juga harus disuntik mati sebelum bisa mendapatkan facelift yang setara dengan Suzuki Satria.

Foto dok. Liputan6.com

Sayangnya, produksi Suzuki mulai stagnan di Satria. Belum ada inovasi yang benar-benar mencengangkan bahkan sampai produksi Suzuki Fighter dan Black Predatornya. Semakin disayangkan, karena Suzuki justru lebih menginginkan downgrade 110cc pada Young Star daripada mencoba membuat gebrakan baru.

Foto dok. Liputan6.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya